Kreasi Anak Cerdas Tanpa Batas

Sungguh Semua Anak Mau Belajar!

0
Judul di atas benar-benar tidak mengada-ada. Saya sering katakan: demi Allah semua anak mau belajar! Asal metodenya tepat, ketahuilah semua anak mau belajar.Buktinya semua bayi ketika merangkak menyentuh semua yang bisa mereka sentuh. Mereka mengeplorasi dan meneliti benda-benda di sekitarnya: colokan listrik, bola, karet, jari ibunya, pasir, tanah, daun, sendal. Kadang mereka sentuh-sentuh, geser, geser, angkat, remas, bahkan dimasukkan ke mulit, meski sendal sekalipun.

Ketika mereka mulai bicara, mereka banyak bertanyak kepada orangtuanya. Saking antusiasnya belajar, bahkan sebagian orangtua kewalahan dengan pertanyaan-pertanyaan anak ini. Pernah kan mengalami kejadian sejenis ini ketika saat Anda di dapur?

“Lagi ngapain Ma?”
“Masak nak.. ”
“Masak apa?”
“Sayur asem… ”
“Kayak gimana sayur asem itu Ma?”
“Ya rasanya asem… ”
“Kenapa bisa asem rasanya?”
“Kan dikasi asem… ”
“Bumbunya apa aja Ma?”
“Banyaaak”
“Iyaaa…. banyak itu apa aja?”
“Ada asem. garam, bawang merah, terasi, lengkuas… ”
“Lengkuas itu apa?”
“Apa ya.. yang kayak gini…. ”
“Rasanya gimana Ma?”
“Ihhh tanya, tanyaa terus. Sana… sana!”

Hahay… ternyata orangtua sendiri yang menghentikkan gairah anak belajar! Coba pikirkan dan coba ingat-ingat kembali, berapa lama kita tahan ditanya-tanya anak? Kalau Anda perhatikan kiri kanan Anda, saat orangtua ditanya anak, sebagian besar orangtua tahan ditanya sama anak hanya sampai 3 pertanyaan!

Padahal, ketika anak bertanya, itu tanda anak curious… alias penasaran. Penasaran adalah ekspresi dari rasa keingintahuan. Keinginantahuan adalah modal besar dari belajar. Keingintahuan adalah modal sejati dari belajar yang sebenarnya. Maksudnya yang membuat anak benar-benar mau belajar secara alamiah ya karena keingtahuan ini bukan ujian nasional, bukan disuruh orangtua, bukan pula karena ada PR.

Bahkan tahukah Anda, karena bumbu keingintahuan inilah seseorang bisa beragama dan mengaplikasikan keberagamaannya dengan benar. Maksud saya, sebagian orang beragama menjadi tidak sebenarnya karna beragamanya hanya karena keturunan bukan karena ilmu.

Beragama karena ilmu adalah beragama yang didasari atas kebutuhan eksistensi manusia akan makna-makna uqdotul kubro: where i came from? who i am? what i have to do with my life? where i’ll going after this life?

Karena penasaran inilah pula Nabi Ibrahim menemukan makna ketuhanannya seperti diceritakan dalam Al-Qur’an. Nabi Ibrahamim meyakini bahwa sesuatu pasti ada yang menciptakan. Beliau sangat penasaran, siapakah gerangan yang menciptakan, darimaman kehidupan berasal dan darimanakah dirinya berasal: where i came from? Lalu beliau menerka-nerka dengan pikiran sederhananya: pasti ada sesuatu yang luar biasa yang menciptakan semua kehidupan. Ketika melihat bintang beliau berkata “qul haadza robbi, pasti ini Tuhanku.” Dan ahaaa ternyata berganti siang bintang itu hilang, maka Ibrahim yang penasaran ini pun kecewa “La uhibbu anil afiilin, aku tidak suka dengan yang tenggelam” dan seterusnya diterka satu-satu, matahari, bulan dst.

Soal ketuhanan, sehebat apapun akal manusia ada yang tidak bisa dicerna, tentang Dzat-Nya misalnya. Karena Allah Maha Rahman dan Rahim maka Allah memberi petunjuk tentang pertanyaan-pertanyaan Ibrahim tadi, sebab jika hanya mengandalkan akal, mungkin tidak akan pernah sampai. Namun demikian, dari akal lah juga bermula tentang makna-makan ketuhanan itu sendiri.

Mari kembali lagi soal bahwa semua anak memiliki modal besar dari belajar ini yaitu penasaran. Kenyataannya, seperti kejadian yagn saya ceritakan di awal, sebagian penasaran tadi justru dimatikan orangtua d irumah. Riset Gordon Stock membuktikan bahwa sebagian besar anak mengalami kesulitan belajar dan akhirnya malas belajar karena merasa stress saat belajar. Dan tahukah Anda siapa yang membuat stress belajar? Urutan pertama orangtua dan urutan kedua sekolah! Dua lembaga yang justru diberikan kewenangan dalam mendidik generasi.

Tentu saja kita bukan orang malaikat. Adakalanya kita pun lagi pusing, kita lagi terburu-buru, kita lagi banyak urusan, atau karena kita tidak tahu semua jawaban yang ditanyakan anak, kita tak bisa menjawab semua pertanyaan anak. Semua itu wajar. Tapi sungguh kita tak berhak untuk mematikan penasaran anak. Sekali lagi rumusunya: KITA BOLEH MERASA TERGANGGU OLEH ANAK, TAPI KITA TAK BERHAK SAMA SEKALI MEMATIKAN PENASARAN ANAK. Ketika penasaran anak mati, sejak saat itulah potensi belajar anak (yang sebenarnya) mati!

Seperti peertanyaan tentang masak tadi, mungkin Anda akan berkata “jika dilayani terus, pertanyaan anak saya bisa sampai sahur!” Kenyataannya kalau Anda buktikkan tidak akan demikian. Pasti anak Anda akan capek sendiri. Saya pernah membahas soal pertanyaan berulang-ulang dari anak ini dalam tulisan yang lain di buku pertama saya “Sudahkah Aku Jadi Orangtua Shalih?”

Tapi kalau alasannya lagi terburu-buru atau merasa terganggu tidak usahlah kita berkata pada anak kita “Sana-sana, mama lagi sibuk ni.” atau “Bawel amat!”, atau “Nggak sabaran amat, nanti juga makanannya Mama kasi!” atau “Udah pengen tahu aja urusan orang gede, nonton tv sana!”Itu mengkerdilkan potensi belajar tadi: penasaran. Berbeda sangat jika Anda ketika merasa terganggu mengatakan “Anak mama pengen tau ya? Boleh.. tapi tidak sekarang ya Nak. mama sangat sibuk, maafkan Mama. Mama tidak mau diganggu, nanti ya Mama akan jawab apa yang ingin kamu tanyakan setelah selesai masak!” atau Anda katakan pada anak bahwa kita akan menjawabnya sejam, dua jam lagi atau nanti malam atau yang sejenis ini.

Jika kita tidak tahu jawaban dari pertanyaan anak, jangan pernah sok tahu, dengan alasan demi menjaga kredibilitas anak. Parents, kita bukan kamus besar yang pasti tahu semua yang ditanyakan anak. Menjadi orangtua cerdas bukan berarti kita menguasai semua yang ditanyakan anak. Tugas orangtua bukanlah menjadi Mr. atau Mrs, gugel! Yang bisa memberikan banyak jawaban. Bukan, bukan itu. Tugas kita hanyalah menjadi fasilitator bagi anak untuk mencintai pengetahuan. Artinya jika kita tidak tahu, kita jawab “Mama Papa belum tau, tapi yuk kita cari tahu!”

Bagi yang tahu tentu saja oke! Tapi jika Anda tidak tahu, apa yang akan Anda lakukan ketika anak bertanya “Abah, kenapa kunang-kunang bercahaya?” Pertanyaan ini ditanyakan anak saya yang pertama bertahun-tahun yang lalu, waktu dia berusia 7 tahun. Karena saya tidak tahu maka saya jawab “Aduh, abah nggak tau ya.. ” Bisa jadi untuk demi menjaga kredibilitas saya katakan “Karena malam hari!” atau “Karena gelap!” atau dengan jawaban pamungkas “Ya karena takdir Allah!”

Saya tidak menjawabnya demikian, saya jawab saya benar-benar tidak tahu, tapi setelah itu saya ajak anak saya untuk mencari tahu. Pergi ke toko buku, cari di internet, dan seterusnya. Setelah anak tahu, justru semakin banyak rentetan pertanyaan lainnya, keingintahuan lainnya. Subhanallah. Bukti anak mau belajar bukan?

Tapi kenyataannya, sebagian orangtua mengatakan anaknya begitu malas sekali untuk membuka buku pelajaran. Harus disuruh-suruh terus mengerjakan PR jika ada PR. Seperti cerhat berikut ini:

“Assalamu’alaikum. Abah saya mau tanya, putra saya yg pertama sekarang sudah kelas 3, tapi sejak beberapa bulan ini kadang-kadang mulai agak malas untuk belajar, harus diingatkan dulu kecuali kalau ada PR. Apa saya yang salah mendidiknya? Menurut Abah bagamana caranya supaya anak mau belajar tanpa disuruh? Terima kasih Abah.”

Anak yang malas ngerjain PR belum tentu malas belajar. PR itu sendiri sebenarnya tidak tepat diberikan anak-anak kelas 1-3 karena konsep berpikir mereka yang masih ekploratif bukan akademik. Fase kelas 1-3 fase transisi. Coba tanya pada diri kita sendiri, apakah waktu kita sekolah dulu menyukai PR? berapa banyak dari kita yang senang jika dikasi PR? Senang loh ya bukan rajin mengerjakan PR? Adakah diantara kita yang mengharapkan dikasi PR? Adakah diantara kita yang hobby mengerjakan PR.

Sebagian kita memang ada yang dari kecil rajin mengerjakan PR. Tapi rajin mengerjakan PR bukan berarti kita begitu menyenanginya bukan?

Karena itu mari paradigmanya kita rubah. Semua anak mau belajar asal diberikan metode yang tepat. UNDANG ANAK BELAJAR, bukan SURUH ANAK BELAJAR!

Tidak bisa dipungkiri, ada anak istimewa yang mau belajar sendiri meski tak disuruh. Tetapi meski mereka mau belajar sendiri tanpa diminta orangtuanya sekalipun, yang ideal semua anak SD saat belajar itu sebenarnya ditemani, dibimbing, bukan disuruh-suruh. Inilah fungsi kita sebagai orangtua. Mencari nafkah bagi abah adalah kewajiban. Tapi mencari nafkah tidak menggugurkan kewajiban abah yang lain ketika punya anak: mendidik anak!

Karena itu meski mungkin kadang lelah setelah seharian bekerja. Menyempatkan waktu untuk menemani dan membimbing anak belajar juga tak boleh dilepaskan.

Sebenarnya anak-anak itu secara alamiah senang belajar. Dan jika metodenya tepat, bahkan yang bergembira dengan belajar, bukan hanya anak, tapi abah yang menemaninya pun mendapatkan banyak kegembiraan.

Misalnya, saat hari ini anak abah yang kelas 2 SD (salma) belajar tentang AIR (sains). Worksheet (buku pelajaran anak) anak abah bisa jadi bahan seru untuk belajar.

Abah mulai dari bercerita tentang air. Kita boleh namakan air itu dengan sebutan Ara, Aira, Al-Water. Sebut saja, “ada setetes air bernama al-water.”

“Ia kadang diam, kadang bergerak! Saat di danau dan kolam, al-water senangnya diam. Tapi saat di sungai al water senangnnya bergerak.”

“Al-water klo bergerak senangnya itu bergerak (mengalir) dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah!”

“Menurut kamu, bisakah al water bergerak dari tempat yang rendah ke tinggi?”

Dan seterusnya, bahkan saat semalam belajar ini, subuh tadi salma meminta lagi untuk belajar. Ia benar-benar ketagihan belajar! karena ini membuatnya PENASARAN! membuatnya ingin tahu lebih banyak!

Apalagi ketika abah memperlihatkan percobaan dengan gelas tentang sifat-sifat air, memperlihatkan bola dunia yang ternyata bagian air jauh lebih banyak darpada bagian daratan dst.

JAdi, tak ada lagi istilah anak tidak senang belajar! Apalagi divonis malas belajar! yang ada adalah orangtua ynag hanya nyuruh-nyuruh belajar! Tapi tidak mendampingi belajar!

Tak ada lagi anak yang ogah-ogahan belajar, yang ada adalah kita yang menggunakan metode belajar ‘akademik’ yang sesuai dengan otak dewasa , dipaksakan dengan otak anak-anak.

Apakah harus ditemani terus belajar?! Tidak! Tapi fase SD adalah fase untuk anak pengenalan belajar akdemik. Fase ini adalah fase dimana anak dilatih untuk menyukai belajar akdemik. Insya Allah pada waktunya nanti (mulai SMP) anak-anak karena sudah terlatih tidak usah lagi ditemani pun sudah terlatih bagaimana menggali bahan ajar sehingga menarik minat dia terus bereksplorasi.

Tapi belajar yang saya maksud di sini, bukan hanya belajar akademik. Jika metodenya tepat, belajar akademik, belajar eksploratif, belajar kehidupan, belajar agama, atau belajar apapun sesungguhnya dapat diminati, dinikmati oleh semua anak. Karena semua anak sungguh sejak awal diciptakan Allah ke dunia, mau belajar.

(www. auladi.org | Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari)

Leave A Reply

Your email address will not be published.